Radio90.com — Di era modern saat ini, mendaki gunung telah beruma rupa menjadi bagian dari gaya hidup digital. Peralatan serba ringan (ultralight), pakaian berbahan teknikal yang tahan air, hingga perangkat GPS dan sinyal satelit membuat pendakian semakin aman dan praktis. Namun, bagi anak muda yang mengandungi hobi merambah rimba di dekade 1990-an, mendaki gunung adalah ujian fisik, mental, dan ajang pembuktian solidaritas analog sejati.
Tanpa adanya fitur live tracking, unggahan cerita di media sosial, atau jaket gore-tex canggih, bagaimana dinamika dan pesona mendaki gunung bagi pemuda-pemudi 90-an?
Perlengkapan “Tempur” Analog yang Berat dan Otentik
Mendaki gunung di era 90-an membutuhkan tenaga ekstra karena bobot logistik dan peralatan yang dibawa sangat berat.
-
Tas Carrier Rangka Besi (External Frame): Belum ada tas carrier ergonomis berbobot ringan seperti sekarang. Anak muda 90-an mengandalkan tas kerir dengan rangka besi di bagian luar (external frame) yang kokoh namun cukup menyiksa pundak.
-
Tenda Dom dan Tenda Pramuka: Tenda yang populer di masa itu masih menggunakan tiang penyangga aluminium tebal atau bahan terpal tebal yang membutuhkan banyak pasak dan tali tiupan angin.
-
Kompor Parafin dan Nesting: Untuk memasak air atau mi instan di puncak gunung, pendaki era 90-an menggunakan kompor kotak kecil berbahan bakar blok parafin (dry alcohol) atau kompor minyak tanah portabel. Wadah memasaknya tak lain adalah nesting aluminium kotak ala militer yang ikonik.
Fesyen Pendaki 90-an: Jins, Flanel, dan Sepatu Kodachi
Sisi penampilan pendaki era 90-an memiliki estetika vintage yang sangat khas dan melekat hingga kini dalam ingatan sejarah budaya pop.
-
Celana Jins dan Kemeja Flanel: Walau kini dianggap kurang aman karena menyerap air dan lama kering, celana jins longgar serta kemeja flanel kotak-kotak oversized adalah seragam wajib cowok dan cewek pendaki 90-an.
-
Sepatu Kanvas Lokal: Selain sepatu boots kulit berat, anak muda masa itu sangat mengandalkan sepatu kets kanvas bertelapak karet seperti Sepatu Kodachi atau Warrior karena cengkeramannya yang kuat di jalur tanah basah dan harganya yang terjangkau.
-
Slayer dan Bandana: Kain slayer bermotif batik atau paisley diikatkan di leher atau kepala untuk menahan keringat sekaligus penanda identitas kelompok pecinta alam sekolah/kampus.
Peta Topografi dan Kehangatan Tanpa Sinyal
Hal paling berharga dari mendaki gunung di era 90-an adalah ikatan emosional dan komunikasi antar-pendaki yang sangat murni.
-
Navigasi Peta Kompas: Tanpa GPS ponsel, pendaki bertumpu penuh pada kemampuan membaca peta topografi cetak, navigasi kompas bidik, serta petunjuk dari juru kunci atau warga lokal di pos pendakian (basecamp).
-
Malam Kehangatan di Api Unggun: Ketika malam tiba di Pos Pasang Tenda, seluruh anggota tim berkumpul mengelilingi api unggun kecil atau lilin di dalam tenda. Ditemani seduhan kopi hitam panas dan genjrengan gitar akustik yang diboyong hingga puncak, mereka saling bercerita, menyanyikan lagu-lagu Iwan Fals atau Franky Sahilatua, tanpa terdistraksi oleh layar gawai.
Panggilan Jiwa dan Kebebasan Sejati
Bagi generasi muda 90-an, mendaki gunung bukan tentang berburu foto estetis untuk dipamerkan, melainkan proses penemuan diri, penghormatan terhadap alam bebas, dan pemupukan rasa persaudaraan yang tak lapuk oleh waktu.
Jejak-jejak sepatu kanvas di jalur berbatu, aroma asap parafin, dan dinginnya puncak gunung era 90-an akan selalu menjadi kenangan manis bagi siapa saja yang pernah merasakannya.

