Radio90an.com – Di tengah gencarnya teknologi kecerdasan buatan (AI) dan kamera ponsel pintar modern yang semakin canggih, anak muda (khususnya Gen Z) justru sedang digandrungi oleh tren viral yang membawa kembali estetika era 90-an dan awal 2000-an: berburu dan mengoleksi Kamera Digital Saku (Vintage Digicam).
Tagar seperti
#digicam, #vintagecamera, hingga #90s aesthetic telah ditonton ratusan juta kali di TikTok dan Instagram. Anak-anak muda era sekarang ramai-ramai membeli kembali kamera digital jadul yang diproduksi pada era late-90s hingga awal 2000-an—seperti seri Sony Cyber-shot, Canon IXY/PowerShot, Nikon Coolpix, hingga Fujifilm FinePix.1. Alasan Mengapa Digicam Jadul Bisa Viral di Era Modern
Fenomena ini menjadi unik karena di saat kamera smartphone mampu mengambil foto ultra-HD dengan kejernihan sempurna, Gen Z justru mencari kebalikannya.
-
Hasil Foto “Imperfect” khas 90-an: Kamera digital era 90-an menghasilkan foto dengan pencahayaan flash yang agak berlebihan (harsh flash), kontras tinggi, butiran halus (noise/grain), serta nada warna (color tone) yang cenderung warm dan sedikit memudar. Hasil estetika ini memberikan nuansa nostaljik yang autentik tanpa perlu menggunakan filter aplikasi.
-
Bosan dengan Filter AI dan Foto Terlalu “Rapi”: Banyak anak muda merasa hasil foto smartphonemasa kini terlalu diproses oleh algoritma (terlalu mulus dan tajam). Digicam jadul menawarkan kejujuran momen, di mana foto yang sedikit blur atau overexposed justru dianggap memiliki “karakter” dan nilai seni tersendiri.
-
Pengalaman Menggunakan Perangkat Tunggal (Dedicated Device): Mengambil foto dengan digicammemberikan ritual khusus: memegang kamera fisik, menekan tombol shutter mekanis, mengarahkan kilatan flash, hingga memindahkan memori kaset/SD Card ke laptop. Hal ini menghadirkan kembali pengalaman otentik ala era analog.
2. Hubungannya dengan Tren Fashion & Lifestyle 90-an
Demam digicam ini tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi pelengkap sempurna dari kebangkitan gaya hidup (lifestyle) dan fashion 90-an yang saat ini sedang mendominasi:
-
Paduan Outfit Retro: Foto beresolusi vintage dari kamera saku ini dinilai sangat cocok dipadukan dengan gaya busana 90-an yang sedang tren, seperti baby tee, baggy jeans, kemeja flanel oversized, bucket hat, hingga aksesori jepit rambut claw clip.
-
Aksesori Hangout Pendukung: Kamera digicam kecil kini tidak lagi hanya dianggap sebagai alat pemotret, tetapi juga dialihfungsikan sebagai aksesori fashion yang dikalungkan di leher atau digantungkan di tas saat nongkrong di kafe.
3. Dampak Ekonomi: Pasar Kilas Balik dan Pasar Barang Bekas
Viralnya tren ini menciptakan fenomena ekonomi baru di pasar barang bekas (thrift shop & preloved):
-
Harga Kamera Jadul Melonjak: Kamera-kamera saku era 90-an/2000-an yang dulunya dianggap “sampah elektronik” (e-waste) dan disimpan di gudang, kini dicari kembali dengan harga yang melonjak pesat di pasaran online.
-
Peluang Bisnis Thrift Digital: Banyak akun online shop anak muda yang kini khusus berjualan kamera vintage, lengkap dengan layanan perbaikan (restoration) dan penjualan memori/baterai jadul yang sudah langka.
Kesimpulan
Fenomena viralnya kamera digital saku ini membuktikan bahwa “teknologi boleh maju, tapi nostalgia punya tempat tersendiri di hati generasi muda”. Bagi Gen Z yang tidak sempat merasakan masa keemasan era 90-an secara langsung, digicam menjadi mesin waktu fisik yang memungkinkan mereka mencicipi kehangatan, kesederhanaan, dan estetika estetika masa lalu di tengah riuk-pikuk era digital modern.

