Radio90.com — Sebelum Black Sabbath dikenal sebagai perintis genre heavy metal dan memengaruhi ribuan band cadas di seluruh dunia, sebuah tragedi memilukan hampir saja memadamkan karier sang gitaris legendaris, Tony Iommi, sebelum sempat dimulai.
Di usianya yang baru 17 tahun, sebuah insiden kerja mengerikan merampas sebagian jari tangannya. Namun dari rasa sakit dan keputusan untuk tidak menyerah itulah, warna musik cadas lahir untuk selamanya.
Hari Terakhir di Pabrik dan Tragedi Mesin Pemotong
Pada pertengahan dekade 1960-an di Birmingham, Inggris, Anthony Frank Iommi remaja bekerja di sebuah pabrik pemotong lembaran logam. Hari itu sejatinya adalah hari terakhir Iommi bekerja di pabrik tersebut. Ia sudah memutuskan untuk mengundurkan diri demi berencana ikut tur musik ke Eropa bersama bandnya saat itu, Birds & Bees.
Di jam-jam terakhir shift kerjanya, pekerja yang biasa mengoperasikan mesin pemotong pisau besar (guillotine machine) tidak hadir. Iommi ditugaskan untuk menggantikannya.
Saat sedang mendorong lembaran logam ke dalam mesin, perhatiannya teralih sejenak. Mesin penekan turun dengan cepat dan memotong ujung jari tengah serta jari manis tangan kanannya—tangan yang ia gunakan untuk menekan senar gitar (fretting hand).
“Darah berceceran di mana-mana. Ujung jari-jarku terpotong dan tertinggal di mesin. Dokter di rumah sakit memberi tahu bahwa saya tidak akan pernah bisa bermain gitar lagi,” kenang Iommi dalam berbagai wawancaranya.
Titik Balik: Inspirasi dari Django Reinhardt
Mendengar vonis dokter bahwa ia tak lagi bisa memetik senar dengan tangan kanannya membuat Iommi depresi berat. Musik adalah hidupnya, dan di usia 17 tahun, mimpi itu seolah hancur berkeping-keping.
Momen kebangkitan hadir lewat manajer pabrik tempatnya bekerja yang datang menjenguk. Sang manajer memutar piringan hitam milik musisi jazz legendaris asal Prancis, Django Reinhardt. Sang manajer menceritakan bahwa Reinhardt berhasil menjadi salah satu gitaris jazz terhebat di dunia meskipun dua jarinya cacat akibat kebakaran hebat.
Kisah Reinhardt menjadi tamparan sekaligus suntikan semangat bagi Iommi. Jika Reinhardt bisa, maka ia pun pasti bisa.
Inovasi Buatan Sendiri: Lahirnya Sound Riff Heavy Metal
Pantang menyerah, Iommi mulai menciptakan solusi rakitannya sendiri agar bisa kembali menekan senar gitar:
- Jari Palsu dari Botol Cuci Piring: Iommi melelehkan botol plastik bekas sabun cuci piring (Plastic Fairy Liquid bottle), membentuknya menyerupai ujung jari, lalu mengamplasnya hingga pas di jarinya.
- Lapisan Kulit Jaket: Ia memotong bagian dari jaket kulit lamanya dan menempelkannya ke ujung plastik buatan tersebut untuk memberikan daya cengkeram (grip) saat menekan senar.
- Menurunkan Setelan Senar (Tuning Down): Karena ujung jari buatannya tidak memiliki saraf dan sangat sakit jika menekan senar gitar standar yang keras, Iommi mengendurkan setelan nada gitarnya (menjadi Tuning C atau D) serta menggunakan senar banjo yang lebih tipis.
Takdir yang Mengubah Sejarah Musik Dunia
Penyesuaian teknis yang dilakukan Iommi secara tak sengaja menciptakan karakter suara gitar yang belum pernah ada sebelumnya. Nada gitar yang diturunkan (detuned) menghasilkan suara yang jauh lebih berat, gelap, tebal, dan bernuansa magis.
Ketika ia membentuk Black Sabbath pada tahun 1968 bersama Ozzy Osbourne, Geezer Butler, dan Bill Ward, karakter suara gitar Iommi menjadi fondasi utama lahirnya genre heavy metal. Riff-riff ikonik di lagu seperti “Paranoid”, “Iron Man”, dan “War Pigs” semuanya lahir dari keterbatasan fisik yang diubah menjadi mahakarya.
Tragedi di usia 17 tahun itu membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah akhir dari segalanya. Di tangan seorang Tony Iommi, musibah memilukan justru ditempa menjadi sejarah besar yang mengubah wajah musik dunia.
Riff gitar Tony Iommi di lagu Black Sabbath mana yang paling bikin kamu merinding?

