Radio90.com — Sebelum dunia disihir oleh irama santai reggae ala Bob Marley, pulau Jamaika lebih dulu digoyang oleh ritme yang jauh lebih cepat, energik, dan meledak-ledak. Genre tersebut adalah Ska.
Lahir di akhir era 1950-an, ska bukan sekadar musik tari biasa, melainkan cetak biru (blueprint) dari seluruh musik populer Jamaika sekaligus simbol kemerdekaan dan kebanggaan nasional warga Kingston.
Awal Mula: Perkawinan R&B Amerika dan Musik Tradisional Jamaika
Pada era 1950-an, masyarakat Jamaika sangat menggemari musik Rhythm and Blues (R&B) serta Jazz yang diputar oleh stasiun radio dari Miami dan New Orleans, Amerika Serikat. Musik ini biasa diputar oleh para operator Sound System—sebutan untuk panggung hiburan jalanan yang dipelopori oleh tokoh-tokoh seperti Duke Reid dan Clement “Coxsone” Dodd.
Namun, ketika tren R&B di Amerika mulai bergeser di akhir dekade 50-an, pasokan lagu-lagu R&B bertempo cepat mulai berkurang. Para pemilik sound system dan produser lokal Kingston akhirnya memutuskan untuk merekam musik mereka sendiri.
Musisi-musisi Jamaika, yang mayoritas berlatar belakang pendidikan jazz, mulai menggabungkan elemen R&B dan jazz Amerika dengan gaya musik tradisional lokal:
- Mento: Musik rakyat tradisional Jamaika yang kaya akan aksentuasi instrumen akustik.
- Calypso: Musik Karnaval khas Karibia yang penuh ritme gembira.
Karakteristik Musik dan Asal-usul Nama “Ska”
Ciri khas utama musik ska terletak pada penekanan ketukan offbeat (aksen pada ketukan ke-2 dan ke-4). Gitar atau piano dimainkan dengan gaya staccato yang tajam—sering disebut upbeat chop atau skank diiringi garis bass (walking bassline) yang dinamis dan tiupan alat musik tiup (brass section) yang megah.
Mengenai asal-usul namanya, ada beberapa versi populer:
- Suara Petikan Gitar: Istilah “ska” dipercaya berasal dari kata onomatope untuk menirukan bunyi petikan gitar offbeat yang berbunyi “ska! ska! ska!”.
- Sapaan Khas: Versi lain menyebutkan bassis legendaris Cluett Johnson sering menyapa teman-temannya dengan sebutan “Skavoovie!”, yang kemudian diadaptasi menjadi nama genre ini.
Era Emas Wave Pertama dan Kemerdekaan Jamaika (1960-an)
Ska mencapai puncak popularitasnya bersamaan dengan momen bersejarah kemerdekaan Jamaika dari Inggris pada tahun 1962. Musik ini menjadi soundtrack resmi atas kegembiraan rakyat Jamaika yang menyambut era baru.
Grup terpenting dalam sejarah ska gelombang pertama (First Wave) adalah The Skatalites, yang dibentuk pada tahun 1964. Diisi oleh musisi-musisi jenius seperti Don Drummond (trombon) dan Tommy McCook (saksofon), The Skatalites menciptakan hits-hits instrumen ska ikonis seperti “Guns of Navarone” dan “Man in the Street”.
Produser Coxsone Dodd melalui studionya yang terkenal, Studio One, menjadi kawah candradimuka lahirnya bintang-bintang ska, termasuk grup vokal muda bernama The Wailersyang di dalamnya terdapat Bob Marley, Peter Tosh, dan Bunny Wailer.
Evolusi Gelombang: 2 Tone hingga Third Wave
Seiring bertambah panasnya suhu politik di Kingston pada akhir 60-an, tempo musik ska yang cepat perlahan melambat menjadi Rocksteady, sebelum akhirnya berevolusi menjadi Reggae.
Meski begitu, ska tidak pernah mati. Musik ini mengalami dua gelombang kebangkitan besar berikutnya:
1. 2 Tone Ska (Gelombang Kedua – Akhir 70-an):Berpusat di Inggris, mengawinkan ska Jamaika dengan energi punk rock. Dipelopori oleh band-band seperti The Specials, Madness, dan The Selecter, gelombang ini mempromosikan pesan persatuan ras (hitam dan putih).
2. Third Wave Ska (Gelombang Ketiga – 90-an): Meledak di Amerika Serikat dan seluruh dunia, termasuk Indonesia. Band-band seperti No Doubt, Reel Big Fish, dan Ska-P memadukan ska dengan pop-punk. Di Indonesia sendiri, era 90-an mencatat ledakan ska lokal lewat band-band seperti Tipe-X, Teeptop, dan Heavy Wave.
Dari panggung jalanan Kingston hingga festival-festival raksasa dunia, ska terus membuktikan dirinya sebagai genre yang tak pernah gagal membuat pendengarnya berdansa.
Lagu atau band ska mana yang paling sering bikin kamu pengen ikutan skanking di depan panggung?

