Radio90an.com – Kalau ngomongin konser musik paling ramai di Indonesia sepanjang 90an, satu nama langsung muncul di kepala anak metal jadul. Yaitu konser Metallica di Stadion Lebak Bulus, 10-11 April 1993. Bukan cuma soal band gede yang akhirnya manggung di Jakarta. Tapi juga soal gimana euforia penonton berubah jadi kerusuhan yang gaungnya masih diomongin sampai sekarang.
Persiapan Konser yang Ambisius
Konser ini digelar promotor AIRO, dipimpin oleh Setiawan Djody. Bujetnya enggak main-main, sampai Rp1,5 miliar buat dua hari pertunjukan. Lokasinya di Stadion Lebak Bulus, yang kapasitasnya cuma sekitar 12 ribuan sampai 40 ribuan penonton, tergantung sumber yang dipakai. Sayangnya, yang dateng jauh lebih banyak dari itu.
Metallica sendiri bawa formasi klasik. Ada James Hetfield, Kirk Hammett, Jason Newsted, dan Lars Ulrich, sebagai bagian dari tur dunia mereka.
Antrean Panjang, Stadion Kebobolan
Sejak siang hari, penggemar dari berbagai penjuru Jakarta udah berduyun-duyun ke arah Lebak Bulus. Padahal, Metallica baru manggung malam hari. Karena itu, kemacetan di sekitar stadion enggak terhindarkan lagi, dan antreannya ngular panjang banget.
Masalahnya, fasilitas keamanan di lokasi enggak sebanding sama jumlah massa yang dateng. Akibatnya, banyak yang nekat masuk dari berbagai sisi stadion tanpa tiket.
Meski begitu, suasana di dalam venue sebenarnya relatif kondusif. Puluhan ribu penonton nyanyi bareng hampir di semua lagu. Bahkan, Lars Ulrich sampai terkesan banget ngeliat betapa hafalnya fans Jakarta sama lagu-lagu Metallica. Namun, di luar stadion, ceritanya beda total.
Kobaran Api di Luar Stadion
Massa yang enggak kebagian akses masuk mulai bikin onar. Kericuhan makin parah ketika aparat coba membubarkan kerumunan, tapi malah dibales lemparan batu. Dari situ, keadaan berubah jadi penjarahan dan pembakaran.
Selain mobil-mobil yang diparkir di sekitar lokasi, toko-toko di kawasan Pondok Indah juga ikut kena getahnya. Bahkan, area kerusuhan meluas sampai radius dua kilometer dari lokasi konser, menyentuh kawasan pertokoan Pondok Indah Mall.
Cerita dari Atas Panggung
Lars Ulrich, dalam dokumenter Global Metal (2007), cerita gimana dia baru sadar ada kerusuhan gede pas lagi manggung. Dari atas panggung, dia bisa liat kobaran api dan asap. Selain itu, dia juga dengar suara sirine polisi bersahutan.
Menurut Lars, stadion waktu itu ada di kawasan Jakarta yang cukup mapan. Sementara itu, di luar pagar ada ribuan remaja yang emosinya lagi meledak-ledak.
Meski begitu, Lars enggak menampik kalau atmosfer di dalam stadion justru kerasa hangat. Ke Republika, sesaat sebelum naik panggung di hari kedua, dia bilang timnya jelas pengin main lagi di Jakarta suatu saat nanti.
Korban dan Dampak Kerusuhan
Menurut catatan siaran pers Kodam Jaya waktu itu, ada belasan orang luka berat dan puluhan luka ringan, cuma di hari pertama. Salah satu pejabat keamanan bahkan sempat bilang ke Media Indonesia kalau kerusuhan ini dibonceng orang-orang enggak bertanggung jawab. Beberapa di antaranya kepergok bawa senjata tajam.
Untungnya, enggak ada laporan korban jiwa. Meski begitu, kerusuhan ini tetap disebut sebagai salah satu kerusuhan terbesar yang pernah mengiringi pertunjukan musik di Indonesia. Ini diukur bukan cuma dari jumlah korban, tapi juga dari luas wilayah yang kena imbasnya.
Dari Rusuh Jadi Legenda
Meski diwarnai kekacauan di luar, konser ini tetap dikenang sebagai momen bersejarah buat scene metal Indonesia. Ini jadi bukti gimana besarnya antusiasme anak muda 90an terhadap musik cadas. Sampai-sampai, satu kota kayak “ikut manggung” walau cuma dari luar pagar stadion.
Dua puluh tahun kemudian, tepatnya 2013, Metallica balik lagi ke Jakarta. Kali ini mereka manggung di GBK dengan pengamanan jauh lebih rapi, dan konsernya berjalan lancar tanpa kericuhan berarti. Namun, buat generasi yang ngerasain langsung tahun 1993, cerita soal Lebak Bulus tetap jadi salah satu memori paling ikonik dari panasnya semangat musik rock di era itu.
















