Radio90.com — Bagi generasi yang tumbuh di era 1990-an, malam minggu atau waktu santai di rumah terasa tak lengkap tanpa suara tabuhan kendang, gambang kromong, dan celetukan-celetukan jahil bertutur kata khas Betawi. Pada dekade inilah seni pertunjukan Lenong mengalami puncaknya, berhasil bertransformasi dari panggung rakyat kebanggaan warga Jakarta menjadi tontonan utama yang disukai jutaan pemirsa di seluruh Indonesia.
Lenong bukan sekadar seni teater tradisional; ia adalah cermin kehidupan sosial Betawi yang jenaka, spontan, dan sarat akan pesan moral.
Dari Panggung Kampung Menuju Layar Televisi
Sejarah Lenong sebenarnya telah mengakar sejak awal abad ke-20 sebagai hiburan rakyat. Namun, memasuki era 1990-an, kehadiran stasiun-stasiun televisi swasta memberi napas baru yang luar biasa bagi seni teater ini:
-
Lenong Rumpi dan Revolusi Komedi: Dipelopori oleh Harry de Fretes lewat serial Lenong Rumpi di awal 90-an, Lenong dipoles menjadi lebih modern tanpa menghilangkan roh aslinya. Serial ini sukses besar dan melejitkan nama-nama seniman seperti Debby Sahertian, Harry de Fretes, hingga Robby Tumewu.
-
Lenong Bocah: Memasuki pertengahan era 90-an, hadir fenomena Lenong Bocah yang digawangi oleh Aditya Gumay. Menampilkan bakat-bakat cilik seperti Mellissa “Abang Longma”, Okky Lukman, Danvy “Mpok Saidah”, hingga Chika Waode, program ini sukses menyihir anak-anak era 90-an untuk mencintai kebudayaan lokal.
-
Perpaduan Tradisi Lenong Denes dan Preman: Pertunjukan Lenong era 90-an secara cerdik memadukan unsur Lenong Denes (kisah kerajaan/bangsawan dengan tutur kata formal) dan Lenong Preman (kisah rakyat sehari-hari dengan celetukan bebas) sehingga cerita terasa sangat mengalir dan relevan.
Ciri Khas yang Bikin Kangen Generasi 90-an
Ada beberapa elemen unik yang membuat pertunjukan Lenong era 90-an begitu membekas di hati para penikmatnya:
-
Spontanitas dan Improvisasi: Salah satu kehebatan para pemain Lenong adalah kemampuannya berimprovisasi (celoteh) tanpa naskah ketat. Saling sahut celotehan antar pemain sering kali melahirkan humor alami yang segar.
-
Musik Pengiring Gambang Kromong: Setiap adegan tegang, sedih, maupun kocak selalu diiringi alunan musik Gambang Kromong secara langsung, lengkap dengan alat musik tehyan, kendang, dan gong yang membangun suasana semakin hidup.
-
Karakter-Karakter Ikonik: Mulai dari karakter jawara yang tegas namun konyol, ibu rumah tangga yang ceriwis, hingga sosok centil berbusana warna-warni mencolok menjadi daya tarik utama setiap episodenya.
Warisan Budaya yang Tak Lekang oleh Zaman
Demam Lenong di era 90-an membuktikan bahwa seni pertunjukan tradisional mampu bersaing dan menjadi tuan rumah di negeri sendiri di tengah gempuran budaya pop luar negeri.
Meski tayangan Lenong di televisi tak semarak dulu, kejayaan pertunjukan ini di era 90-an tetap menjadi catatan emas dalam sejarah komedi dan kebudayaan Indonesia. Lenong mengajarkan kita untuk selalu mampu tertawa melihat dinamika kehidupan dengan keterbukaan dan kehangatan.

