Radio90.com — Coba deh lo bayangin, format musik yang dulu sempet dianggap “udah mati” di pertengahan 2000-an, sekarang malah tembus penjualan 1 miliar dolar dalam setahun. Nggak main-main kan? Iya, kita lagi ngomongin vinyl. Piringan hitam yang dulu cuma nongkrong di lemari kakek-nenek atau di toko barang antik, sekarang malah jadi barang buruan anak muda. Gimana ceritanya bisa se-plot-twist ini? Yuk kita bedah bareng-bareng.
Dari Raja Musik Jadi Barang Museum
Zaman old, vinyl itu ratu segala format. Tapi begitu kaset dan CD muncul di era 80-90an, vinyl langsung ditinggal abis-abisan. Puncak keterpurukannya ada di tahun 2006, waktu penjualan vinyl di Amerika Serikat anjlok sampai di bawah satu juta unit doang setahun. Bandingin sama CD yang waktu itu masih laku lebih dari 500 juta keping. Gede banget bedanya, kan?
Orang-orang udah mulai nganggep vinyl itu barang jadul yang nggak relevan lagi. Pabrik-pabrik pressing vinyl banyak yang tutup, toko musik mulai nyingkirin rak khusus piringan hitam. Intinya, vinyl waktu itu udah kayak dinosaurus yang tinggal nunggu punah aja.
Plot Twist: Vinyl Bangkit dari Kubur
Nah ini dia bagian serunya. Sejak 2006, penjualan vinyl ternyata terus naik terus-terusan, dan sampai sekarang udah 19 tahun berturut-turut grafiknya nggak pernah turun. Bahkan di tahun 2020, penjualan vinyl berhasil ngalahin CD buat pertama kalinya sejak era 80-an.
Puncaknya kejadian di tahun 2025 kemarin, di mana pendapatan dari vinyl di Amerika Serikat resmi tembus angka 1 miliar dolar, naik sekitar 9 persenan dari tahun sebelumnya. Sementara itu format-format lain kayak CD dan unduhan digital malah pendapatannya turun. Jadi sementara musik digital makin gampang diakses lewat streaming, orang malah rame-rame balik ke format fisik yang justru ribet muternya. Unik banget nggak sih logikanya?
Kenapa Coba Anak Muda Mau Balik ke Format Ribet Ini?
Ini pertanyaan yang paling sering muncul. Di zaman serba streaming, kenapa orang mau repot-repot beli piringan besar, nyari turntable, terus muterinnya juga nggak bisa sambil lari-lari kayak dengerin Spotify?
Jawabannya simpel: pengalaman. Generasi Z, yang notabene tumbuh besar dikelilingi layar dan algoritma, sekarang malah pengen sesuatu yang lebih *nyata* dan bisa dipegang. Muterin vinyl itu ngajarin lo buat sabar, duduk diem, dengerin album dari track pertama sampe abis, bukan cuma nge-skip lagu yang nggak asik kayak biasanya. Ada semacam ritual dan kepuasan tersendiri pas jarum nyentuh piringan dan suara khas “krek-krek”-nya mulai keluar.
Belum lagi soal koleksi. Sampul album vinyl itu gede, jadi seni artworknya bisa dinikmatin lebih puas dibanding cuma liat thumbnail kecil di layar HP. Banyak juga yang ngoleksi vinyl edisi terbatas sebagai barang investasi atau sekadar pajangan yang estetik abis di rak kamar.
Musisi Besar Juga Ikut Dorong Trennya
Nggak bisa dipungkiri, artis-artis gede juga punya andil besar bikin vinyl makin ngehits. Contohnya di tahun 2025, Taylor Swift sukses jual sekitar 1,6 juta kopi vinyl dari album “The Life of a Showgirl”, yang artinya lebih dari 3 persen dari total penjualan vinyl setahun cuma disumbang sama satu album doang. Gede banget kontribusinya buat industri ini.
Fenomena ini bikin label-label rekaman jadi makin niat ngeluarin format vinyl buat rilisan baru mereka, lengkap dengan variasi warna piringan, packaging eksklusif, sampe bonus item yang bikin fans makin pengen ngoleksi.
Tantangannya Juga Ada, Bro
Meski lagi nge-tren gede-gedean, industri vinyl ini juga nggak lepas dari masalah. Salah satunya soal kapasitas produksi. Pabrik pressing vinyl di Amerika Serikat cuma ada sekitar 30-an, dan itu keteteran banget ngejar permintaan yang membludak. Alhasil, banyak rilisan yang harus rela ngantre produksi berbulan-bulan, bikin harga vinyl jadi makin mahal karena permintaan lebih tinggi dari suplai.
Jadi, Ini Cuma Tren Sesaat atau Emang Bakal Awet?
Ngeliat tren yang udah konsisten naik hampir dua dekade, kayaknya ini bukan cuma euforia sesaat doang. Beberapa analis bahkan memproyeksikan penjualan vinyl bakal terus tumbuh sampai satu dekade ke depan. Jadi buat lo yang masih ragu buat mulai ngoleksi, kayaknya sekarang saat yang pas buat mulai investasi turntable pertama lo.

