Radio90an.com – Sebelum dunia mengenal denting notifikasi ponsel pintar atau obrolan cepat di aplikasi pesan instan, era 1990-an memiliki sebuah alat komunikasi nirkabel yang sangat ikonik: Pager (Penyeranta). Benda mungil berbentuk persegi yang dipasang di sabuk atau diselipkan di dalam saku celana ini pernah menjadi simbol status sosial dan efisiensi komunikasi anak muda serta profesional era 90-an.
Bagi generasi yang tumbuh di dekade tersebut, memiliki pager bukan hanya soal kemudahan berkirim pesan, melainkan sebuah ritual sosial yang unik dan membutuhkan keterlibatan operator pihak ketiga.
1. Ritual Unik Berkirim Pesan Lewat Operator
Berbeda dengan SMS atau pesan instan masa kini yang diketik dan dikirim langsung antar-pengguna, proses pengiriman pesan melalui pager era 90-an melibatkan perantara operator telepon:
-
Menelepon Call Center Operator: Pengirim pesan harus menelepon nomor layanan operator pager (seperti StarPAGE, IndoPage, atau Multipage) dari telepon rumah atau telepon umum koin.
-
Mendiktekan ID dan Pesan: Pengirim akan memberikan nomor ID pager penerima kepada operator, lalu mendiktekan pesan singkat yang ingin disampaikan.
-
Aturan Kesopanan dan Kode Angka: Karena pesan dibaca oleh petugas operator manusia, pesan yang dikirimkan harus tetap sopan. Hal ini memicu kreativitas anak muda era 90-an dengan menciptakan kode-kode angka rahasia (seperti 143 untuk “I Love You” atau 88 untuk “Bye Bye”).
2. Sensasi Bip dan Getar: Kepuasan Komunikasi Analog
Mengoperasikan pager memberikan sensasi dan pengalaman emosional tersendiri bagi para penggunanya:
“Bunyi bip nyaring atau getaran pager di pinggang menghadirkan rasa penasaran dan kebahagiaan instan. Karena kita tidak bisa langsung membalasnya dari pager tersebut, pengguna harus mencari telepon umum terdekat untuk menelepon balik.”— Kompas.com (“Nostalgia Pager, Alat Komunikasi Hits Generasi 90-an Sebelum Era HP”)
-
Perjuangan Membalas Pesan: Saat layar LCD kecil pager menampilkan nomor telepon atau pesan singkat, penerima harus berburu telepon umum koin atau meminjam telepon rumah untuk menghubungi kembali pengirim pesan.
-
Simbol Gaya Hidup: Pager yang digantungkan di sabuk celana menjadi bagian tak terpisahkan dari tren fashion anak muda 90-an, bersanding dengan celana baggy dan kemeja flanel.
“Pager meletakkan fondasi budaya ringkas dalam berkirim pesan. Keterbatasan jumlah karakter di layar pager melatih masyarakat era 90-an untuk menyampaikan pikiran secara padat, jelas, dan bermakna.”— Detikcom (“Mengapa Pager Pernah Jadi Alat Komunikasi Paling Bergengsi di Era 90-an”)
3. Transisi Menuju Era Ponsel dan Nilai Nostalgia Masa Kini
Kejayaan pager di Indonesia berlangsung singkat namun sangat berkesan, sebelum akhirnya tergeser oleh masuknya telepon seluler (HP) berbasis GSM yang menawarkan fitur SMS langsung di akhir era 90-an dan awal 2000-an.
Meski fisiknya kini sudah menjadi barang antik, estetika dan konsep pager sering kali diadaptasi dalam karya budaya pop modern—seperti dekorasi film berlatar 90-an, merchandise retro, hingga inspirasi desain antarmuka (user interface) berkonsep piksel klasik.

