Radio90an.com – Jika Mikrolet dan Bemo menguasai rute-rute pengumpan (feeder) dan jalur pemukiman, maka tulang punggung utama pergerakan komuter dan masyarakat urban skala besar di era 90-an dipegang oleh raksasa-raksasa jalan raya: Bus Kota Tingkat, Metromini/Kopaja, serta Kereta Listrik (KRL) Ekonomi Non-AC.
1. Bus Tingkat Volgren: Sensasi Duduk di Baris Depan Lantai Dua
Bagi warga Jakarta dan beberapa kota besar lain seperti Surabaya dan Surakarta pada awal hingga pertengahan dekade 90-an, menaiki Bus Tingkat merk Leyland atau Volvo dengan karoseri Volgren adalah sebuah kemewahan bersahaja.
“Bagi anak-anak dan remaja era 90-an, rebutan naik ke lantai dua dan duduk di baris paling depan Bus Tingkat adalah pencapaian tertinggi—memberikan pemandangan spektakuler melintasi gedung-gedung bertingkat Jalan Sudirman-Thamrin seolah sedang menaiki wahana rekreasi.”
Dengan tarif yang sangat terjangkau, bus tingkat PPD (Pengangkutan Penumpang Djakarta) menjadi ikon transportasi yang anggun, melaju tenang di tengah kesibukan kota sebelum akhirnya perlahan dipensiunkan di penghujung dekade akibat keterbatasan suku cadang.
2. Metromini & Kopaja: Warna Merah-Oren yang Menguasai Aspal Ibu Kota
Tidak ada yang bisa menandingi keanekaragaman karakter dan adrenalin saat menumpang Metromini(dengan bodi merah-oranye bergaris putih) atau Kopaja (hijau-putih). Menggunakan sasis Metromini Leyland atau Mitsubishi Fuso, bus sedang ini adalah raja jalanan sejati era 90-an.
-
Kenek “Gantung diri” di Pintu: Pemandangan paling ikonik adalah sosok kenek yang bergelantungan di pintu belakang yang terbuka, sambil memukul-mukul bodi bus dengan koin atau berteriak menyebutkan rute (“Senen… Senen… Blok M!”).
-
Saling Oper Penumpang: Kepraktisan dan kecepatan menjadi prioritas utama, di mana gaya mengemudi yang lincah menyelip di antara kemacetan menjadi cerita harian para komuter.
3. KRL Ekonomi Non-AC: Atap Kereta (Atapers) dan Pedagang Asongan
Di jalur rel kereta api komuter Jabodetabek, KRL Ekonomi (Rheostatik) buatan Jepang menjadi andalan jutaan pekerja dan mahasiswa. Tanpa fasilitas pendingin udara (AC), jendela kereta dibuka lebar-lebar untuk membiarkan angin malam atau angin sore berhembus masuk.
Di dalam gerbong, suasana sangat riuh dan hidup. Pedagang asongan hilir mudik menawarkan tahu goreng, koran sore, hingga minuman dingin. Pada jam-jam sibuk berangkat dan pulang kerja, saking padatnya penumpang, lahir fenomena khas era 90-an yaitu penumpang yang nekat naik ke atas atap gerbong (atapers) demi bisa sampai di rumah lebih cepat.

