Radio90.com — Ketika membicarakan musik dari pulau Jamaika, ingatan kolektif dunia sering kali langsung tertuju pada irama reggae dan sosok Bob Marley. Namun, sebelum reggae menguasai panggung global di akhir era 1960-an dan 1970-an, ada sebuah era keemasan berdurasi singkat yang sangat elegan, romantis, sekaligus menari: era Rocksteady.
Di tengah era emansipasi musik Jamaika tersebut, lahir seorang penyanyi wanita berdarah manis dengan vokal emas yang tak tertandingi. Dialah Phyllis Dillon, sosok yang hingga hari ini ditahbiskan sebagai “Queen of Rocksteady” (Ratu Rocksteady).
Bakat Muda dari Linstead dan Pertemuan dengan Duke Reid
Lahir pada tahun 1948 di Linstead, St. Catherine, Jamaika, Phyllis Dillon tumbuh dengan mendengarkan pengaruh musik R&B, soul, dan gospel asal Amerika Serikat, seperti Connie Francis, Dionne Warwick, dan Shirley Bassey. Suaranya yang lembut, jernih, serta kaya akan rasa emosi menjadikannya tampil menonjol sejak usia remaja.
Titik balik kariernya terjadi pada pertengahan era 1960-an ketika penampilannya di sebuah klub malam dilirik oleh gitaris ternama Lynn Taitt. Taitt kemudian mengenalkan Dillon kepada salah satu produser paling berpengaruh dalam sejarah musik Jamaika, Duke Reid, pemilik label rekaman legendaris Treasure Isle.
-
Sinergi di Studio Treasure Isle: Duke Reid yang terkenal dengan ketajamannya memilih penyanyi langsung terpikat oleh warna vokal Dillon. Di bawah naungan Treasure Isle, Dillon menemukan rumah kreatifnya.
-
Perpindahan Musik: Era Ska yang berandalkan tempo cepat dan tiupan terompet kencang mulai melambat menuju Rocksteady—genre yang memberikan ruang lebih luas bagi bassline yang tebal, petikan gitar rhythm, serta harmonisasi vokal yang puitis dan sensual.
“Don’t Stay Away” dan Deretan Hits Abadi
Pada tahun 1966, di usianya yang baru menginjak 19 tahun, Phyllis Dillon merekam lagu debutnya yang langsung mengubah lanskap musik Jamaika: “Don’t Stay Away”.
-
Lagu Kebangsaan Rocksteady: Dengan lirik puitis tentang kerinduan dan kepasrahan cinta, “Don’t Stay Away” menjadi salah satu lagu rocksteady paling sukses dan ikonik sepanjang masa. Warna vokal Dillon yang meliuk merdu berpadu sempurna dengan aransemen musik dari grup studio The Supersonics.
-
Karya-Karya Masterpiece Lainnya: Keberhasilan tersebut disusul oleh deretan hits legendaris seperti “Perfidia”, “Rocksteady”, “It’s Burning”, “Love the One You’re With”, serta interpretasi ulang yang luar biasa berjiwa dari lagu “One Life to Live”.
-
Perspektif Wanita dalam Musik Jamaika: Di industri musik Jamaika era 60-an yang didominasi oleh produser dan penyanyi pria, Dillon hadir membawa perspektif wanita yang jujur, tangguh, namun tetap anggun dan penuh empati.
Pengunduran Diri dan Hibernasi Panjang di New York
Di puncak popularitasnya pada akhir tahun 1960-an, Phyllis Dillon mengambil keputusan yang cukup mengejutkan. Demi alasan keluarga dan pencarian kehidupan yang lebih stabil, ia beremigrasi ke New York, Amerika Serikat.
-
Dua Dunia: Selama beberapa tahun di awal 1970-an, Dillon hidup dalam dua dunia. Ia bekerja sebagai karyawan perbankan di New York pada hari kerja, dan terbang kembali ke Kingston, Jamaika pada akhir pekan untuk merekam album One Life to Live (1972) bersama Duke Reid.
-
Masa Rehat: Setelah meninggalnya Duke Reid pada tahun 1975 dan berubahnya arus musik Jamaika menuju Roots Reggae dan Dancehall, Dillon memilih mundur sepenuhnya dari industri musik selama lebih dari dua dekade untuk fokus membesarkan keluarganya.
Kembalinya Sang Ratu dan Warisan Abadi
Dunia musik tidak pernah melupakan keindahan suara Phyllis Dillon. Pada dekade 1990-an, seiring kembalinya minat global (revival) terhadap musik ska dan rocksteady, Dillon diyakinkan untuk kembali naik ke atas panggung.
Ia melakukan tur reuni yang sangat sukses di Inggris, Eropa, dan Amerika Serikat, membuktikan bahwa kualitas vokalnya sama sekali tidak memudar oleh waktu. Generasi baru pecinta musik Jamaika pun kembali menyambut sang Ratu dengan penuh penghormatan.
Phyllis Dillon berpulang pada bulan Desember 2004 di usia 56 tahun akibat penyakit kanker. Meski raganya telah tiada, nyanyian manisnya dalam lagu-lagu rocksteady era 60-an tetap menjadi cetak biru keindahan musik vintage Jamaika—sebuah warisan abadi tentang cinta, keanggunan, dan jiwa yang tak tertandingi.

