Radio90an.com – Jauh sebelum istilah coffee shop hop dan hangout spot menjamur di kawasan ibu kota, kawasan Parkir Timur Senayan—yang akrab disapa Parkit—adalah episentrum dari segala tren dan gaya hidup anak muda Jakarta pada dekade 1990-an. Bagi para remaja dan mahasiswa kala itu, Parkit bukan sekadar area parkir kendaraan, melainkan sebuah panggung sosial untuk mengekspresikan diri, menjalin koneksi, hingga unjuk gigi kreativitas otomotif.
Magnet Utama “Anak Gaul Jakarta”
Pada masa kejayaannya, Parkit menjadi tempat berkumpul wajib setiap akhir pekan, khususnya Sabtu malam. Fenomena ini melahirkan istilah Anak Gaul Jakarta (AGJ), di mana kehadiran seseorang di Parkit kerap dianggap sebagai tolok ukur “keeksisan” dalam pergaulan remaja ibu kota.
Daya tarik utama Parkit terletak pada budaya otomotifnya. Ratusan mobil—mulai dari sedan klasik yang dirawat mulus hingga kendaraan yang telah dimodifikasi penuh—terparkir rapi dengan pintu atau bagasi terbuka, memperdengarkan dentuman musik dari sistem audio masing-masing.
“Buat remaja yang tinggal di Jakarta, rasanya belum sah dan diakui keeksisannya dalam pergaulan ibu kota kalau belum pernah ke sini. Terletak di selatan Jakarta, Parkit kerap jadi tempat nongkrong AGJ (Anak Gaul Jakarta) dengan mobil-mobil pemberian orangtua mereka.”— Fimela.com (“4 Tempat Nongkrong Anak Gaul Jakarta di Tahun 90-an”)
Lebih dari Sekadar Otomotif: Ruang Komunitas dan Tren
Di balik deretan mobil modifikasi, Parkit adalah tempat berputarnya berbagai tren era 90-an:
-
Pusat Musik dan Audio: Dari bagasi mobil yang disulap menjadi booth audio mendentumkan musik dance, hip-hop, hingga britpop yang sedang naik daun.
-
Gaya Berpakaian (Fashion): Celana baggy, kaus berukuran besar (oversized), kemeja flanel, hingga sepatu kets menjadi “seragam” tidak tertulis para pengunjung Parkit.
-
Interaksi Sosial Tanpa Gadget: Tanpa adanya ponsel pintar atau media sosial, komunikasi terjadi secara langsung. Orang-orang berpindah dari satu kelompok ke kelompok lain, berkenalan, berdiskusi, atau sekadar menikmati suasana malam Jakarta.
Warisan Kenangan Sebuah Era
Seiring masuknya dekade 2000-an dan terjadinya tata ulang kawasan Olahraga Gelora Bung Karno (GBK), kepopuleran Parkit sebagai tempat tongkrongan malam perlahan memudar. Fungsi area tersebut dikembalikan sebagai fasilitas pendukung kegiatan olahraga dan acara skala besar.
Meski masa keemasannya telah berlalu, Parkir Timur Senayan tetap menyimpan memori kolektif tersendiri bagi generasi 90-an. Parkit bukan sekadar kenangan tentang lokasi, melainkan simbol kebebasan, kebersamaan, dan dinamika kebudayaan anak muda pada zamannya.

