Radio90an.com – Bagi anak-anak yang tumbuh di pedesaan Indonesia pada era 90-an, mainan tidak melulu harus dibeli di toko.Kreativitas sering kali muncul dari barang-barang bekas atau bahan alam yang ada di sekitar rumah. Salah satu permainan tradisional yang paling melatih keseimbangan, ketangkasan, dan kesabaran, serta sangat populer pada masa itu, adalah Egrang Batok Kelapa.
Merakit Mainan dari Limbah Dapur
Sesuai namanya, bahan utama permainan ini adalah tempurung kelapa (batok) yang sudah tua dan dibelah menjadi dua bagian sama besar. Proses pembuatannya sendiri menjadi bagian dari keseruan.
“Menyaksikan tempurung kelapa dibersihkan sabutnya, dilubangi bagian tengahnya, dan dipasangkan tali tambang atau serat alam adalah tahapan awal sebuah petualangan kecil.”
Setelah dua buah batok kelapa siap, seutas tali rami atau tambang plastik yang kuat dimasukkan ke dalam lubang dan diikat simpul mati di bagian dalam batok agar tidak lepas. Panjang tali harus disesuaikan dengan tinggi badan pengguna agar mudah ditarik saat berjalan.
Tantangan Menaklukkan Jalanan Kampung
Cara memainkannya terlihat sederhana namun menuntut koordinasi tubuh yang baik. Pemain berdiri di atas sepasang batok kelapa, menjepit tali di antara jari kaki (biasanya ibu jari dan telunjuk), dan menarik tali ke atas dengan tangan untuk menahan batok agar tetap menempel di telapak kaki sembari melangkah.
Berjalan menggunakan egrang batok bukan sekadar berpindah tempat, melainkan sebuah ujian keseimbangan. Suara khas “klok… klok… klok…” yang dihasilkan dari benturan batok dengan tanah atau semen menjadi irama yang akrab terdengar di sore hari.
Melatih Fokus dan Kegigihan
Permainan ini sering dimainkan dalam bentuk balapan lari atau sekadar berjalan santai mengelilingi halaman rumah bersama teman-teman. Jatuh bangun saat mencoba menjaga keseimbangan adalah hal biasa yang justru memancing gelak tawa dan semangat untuk mencoba kembali.
Kini, di tengah gempuran permainan gawai dan teknologi modern, pemandangan anak-anak yang asyik berjalan di atas tempurung kelapa semakin jarang ditemui. Namun, kenangan akan kaki yang sedikit pegal dan rasa bangga saat berhasil menempuh jarak jauh dengan “sepatu” alami ini akan selalu menjadi memori manis masa kecil era 90-an.

