Radio90an.com – Bagi anak-anak yang tumbuh besar di era 90-an, halaman sekolah berlantai semen atau jalanan paving block di depan rumah sering kali berubah menjadi papan permainan raksasa yang penuh warna. Menggunakan sebatang kapur tulis putih atau pecahan genteng merah, anak-anak dengan antusias menggambar kotak-kotak berpola khusus untuk memainkan salah satu permainan tradisional paling populer: Engklek (atau dikenal juga dengan nama tengkleng, teklek, atau sondah).
Aturan Main dan Gacoan Andalan
Permainan engklek umumnya dimainkan secara bergiliran oleh anak perempuan maupun laki-laki di waktu senja atau jam istirahat sekolah. Sebelum melompat, setiap pemain harus menyiapkan gacoan—biasanya berupa pecahan keramik pipih, batu datar kecil, atau potongan genteng yang tidak mudah pecah.
“Lemparan gacoan yang tepat ke dalam kotak sasaran tanpa melewati garis batas adalah kunci awal untuk bisa melompat dengan mulus.”
Aturan permainannya menguji keseimbangan tubuh karena pemain harus melompati kotak-kotak berpola (seperti bentuk gunung, pesawat, atau baling-baling) dengan satu kaki (engklek), sementara kotak tempat gacoan berada harus dilewati. Jika pemain menginjak garis kotak atau keseimbangannya hilang hingga kaki lainnya menyentuh tanah, maka ia harus berganti giliran dengan pemain berikutnya.
Melatih Keseimbangan dan Kebersamaan
Meskipun terlihat sederhana, permainan engklek menuntut konsentrasi tinggi, ketangkasan fisik, serta sportivitas. Gelak tawa, teriakan menyemangati teman, hingga perdebatan kecil saat menentukan batas garis menjadi bumbu penyedap yang menghidupkan suasana sore hari di kampung.
Kini, seiring dengan pergeseran zaman dan berkurangnya ruang terbuka bermain, tradisi melompat di atas kotak-kotak kapur ini semakin jarang terlihat. Namun, kenangan akan gesekan pecahan genteng dan derap lompatan satu kaki akan selalu abadi sebagai bagian manis dari cerita masa kecil era 90-an.
