Radio90an.com – kebangkitan tren fashion Y2K (Year 2000) dan budaya thrifting(berburu pakaian bekas).
Di platform media sosial seperti TikTok, Instagram, dan Pinterest, tagar
#Y2KFashion, #90sStyle, hingga #ThriftHaul menghimpun miliaran penayangan. Anak-anak muda era sekarang ramai-ramai meninggalkan gaya busana serba minimalis (fast fashion) dan beralih mencari busana otentik berdesain retro buatan dekade 90-an.1. Elemen Utama Gaya 90-an yang Viral Kembali
Beberapa potong pakaian dan aksesori yang dahulu menjadi tren khas anak muda 90-an kini kembali menjadi barang wajib (must-have items):
-
Atasan & Jaket Oversized: Kemeja flanel longgar, kaus band vintage (seperti Nirvana, Dewa 19, atau Slank), serta jaket denim berpotongan besar yang dipadukan secara santai.
-
Bawahan Khas 90-an: Celana baggy jeans, cargo pants, overall (baju kodok), dan rok denim berpotongan lurus.
-
Aksesori Ikonik: Topi bucket (bucket hat), kacamata hitam berbingkai oval kecil, jepit rambut claw clip, hingga sepatu kets ber-sol tebal (chunky sneakers).
2. Mengapa Gen Z Begitu Menyukai Thrifting Busana 90-an?
Fenomena berburu baju bekas era 90-an di pasar-pasar thrift (seperti Pasar Senen di Jakarta atau Gedebage di Bandung) hingga toko-toko thrift online tidak sekadar soal penampilan, melainkan berkaitan dengan nilai hidup dan kepedulian sosial.
“Kesadaran akan isu lingkungan dan sustainability mendorong Gen Z memilih pakaian preloved atau thrift. Mereka ingin tampil gaya tanpa harus berkontribusi pada limbah fast fashion, sekaligus mencari pakaian yang memiliki karakter serta kualitas bahan era dulu yang lebih awet.”— Vogue Magazine (“Why Gen Z Is Obsessed With 90s Vintage and Y2K Fashion”)
-
Pencarian Identitas Unik: Menggunakan pakaian hasil thrifting memberikan kepuasan tersendiri karena busana yang ditemukan biasanya terbatas (one of a kind).
-
Ekspresi Diri dan Nostalgia: Gaya busana era 90-an menawarkan kebebasan bereksperimen yang terasa lebih santai namun tetap bergaya (effortlessly cool).
“Tren busana 90-an kembali populer karena generasi muda menyukai estetika effortless dan kasual. Mulai dari celana baggy, kemeja flanel, hingga baju kodok, semuanya memberikan ruang ekspresi yang personal dan nyaman digunakan sehari-hari.”— Kompas.com (“Alasan Gaya Busana Era 90-an Kembali Digandrungi Anak Muda”)
3. Dari Pasar Tradisional hingga Ekosistem Digital
Dampak viralnya tren fashion 90-an ini mendorong kebangkitan ekonomi kreatif di kalangan remaja dan dewasa muda:
-
Gaya Berbelanja Campuran: Anak-anak muda tidak ragu mengombinasikan pengalaman blusukan di pasar thrift tradisional dengan berbelanja vintage item terkurasi di platform e-commerce.
-
Bisnis Thrift Shop Terkurasi: Banyak pemuda yang membuka usaha thrifting khusus barang 90-an. Pakaian bekas dicuci bersih, diwangi, dipadupadankan (styling), lalu difoto dengan estetika retro untuk dijual kembali dengan nilai tambah yang tinggi.

