• Whatsapp
  • Facebook
  • Twitter
  • Telegram
  • Copy
Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube WhatsApp TikTok
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube WhatsApp TikTok Threads
    Subscribe
    • Home
    • News
    • Musik
    • Viral
    • Event
    • Nostalgia 90an
    • Video
    Home » Situs Friendster dan Era Awal Sosmed: Drama Rebutan ‘Top 8 Friends’ dan Kebiasaan Merancang Background HTML Warna-Warni
    Nostalgia 90an

    Situs Friendster dan Era Awal Sosmed: Drama Rebutan ‘Top 8 Friends’ dan Kebiasaan Merancang Background HTML Warna-Warni

    Radio90anBy Radio90anOctober 17, 2026No Comments3 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email
    Radio90.com — Sebelum era algoritma canggih, guliran tanpa batas (endless scroll), dan fitur Storymenguasai layar ponsel pintar, anak muda era awal 2000-an mengenali jejaring sosial dalam bentuk yang jauh lebih lugu, personal, dan penuh warna. Di garda terdepan revolusi media sosial era milenium tersebut, berdiri sebuah platform yang menjadi raja tanpa tanding di kancah internet Asia dan Indonesia: Friendster.

    Didirikan pada tahun 2002 oleh Jonathan Abrams, Friendster bukan sekadar platform untuk mencari teman lama atau berkenalan dengan orang baru. Platform ini adalah kanvas ekspresi diri generasi awal internet yang menghadirkan romantika serta “drama” khas anak muda era 2000-an.

    1. Seni Kustomisasi Profil: Era Kejayaan Kode HTML dan CSS Warna-Warni

    Salah satu daya tarik terbesar Friendster yang paling membakar ingatan anak muda 2000-an adalah kebebasan tanpa batas dalam merancang tampilan halaman profil (profile page).
    • Belajar Coding Demi Tampilan Kece: Demi memiliki halaman profil yang estetik dan berbeda dari orang lain, anak muda era itu rela menyisihkan waktu berjam-jam di warung internet (warnet) untuk mempelajari dasar-dasar kode HTML dan CSS sederhana.
    • Latar Belakang Gambar dan Musik Otomatis: Latar belakang profil dihiasi gambar kustom warna-warni, tulisan berkedip (marquee), kursor mouse berbentuk bintang atau animasi unik, hingga pemutar musik bawaan (seperti playlist dari imeem) yang akan langsung memutar lagu hits rock/pop era itu secara otomatis begitu halaman profil dibuka.

    2. Drama ‘Top 8 Friends’: Ujian Persahabatan dan Asmara di Dunia Maya

    Di balik warna-warni tampilan profil, Friendster menyimpan satu fitur yang kerap memicu intrik sosial di lingkungan sekolah dan kampus: fitur Top 8 Friends (atau deretan teman utama).
    1. Simbol Hierarki Pergaulan: Menempatkan seseorang di dalam daftar teman utama bukan sekadar masalah teknis. Posisi urutan dari nomor 1 hingga 8 dianggap sebagai tolok ukur seberapa dekat tingkat persahabatan atau seberapa penting seseorang dalam kehidupan pemilik akun.
    2. Sumber Pemicu “Drama”: Menggeser posisi teman dekat ke urutan bawah, atau mengganti foto pacar di posisi nomor satu dengan orang lain, bisa menjadi pemicu pertengkaran nyata di dunia fisik. Tak jarang, pesan singkat (SMS) atau sapaan di sekolah diwarnai pertanyaan sensitif: “Kenapa gue tergeser dari Top 8 lu?”

    3. Fitur ‘Testimonial’ dan Who Viewed Your Profile

    Kehangatan interaksi Friendster juga terbangun kuat lewat fitur Testimonial (Testi). Saling berkirim testimonial pujian, cerita kocak tentang masa sekolah, atau ungkapan kasih sayang yang wajib di-approve oleh pemilik akun menjadi aktivitas harian yang dinanti-nanti.
    Selain itu, fitur penunjuk jejak pengunjung (Who Viewed Your Profile) memberikan sensasi mendebarkan tersendiri—terutama ketika mengetahui sosok yang ditaksir (crush) kedapatan sering mengintip halaman profil kita.

    Akhir Era dan Warisan Budaya Digital

    Meskipun Friendster akhirnya tergeser oleh kepraktisan Facebook pada akhir dekade 2000-an, jejak sejarah yang ditinggalkannya tak pernah benar-benar terhapus.
    Friendster mengajarkan generasi awal 2000-an tentang cara berinteraksi di ruang digital, fondasi kreativitas berbasis coding visual, serta kenangan manis tentang masa muda ketika media sosial terasa lebih jujur, hangat, dan penuh warna.
    Share this...
    • Whatsapp
    • Facebook
    • Telegram
    • Twitter
    • Linkedin
    • Pinterest
    Nostalgia 90an radio90an
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Previous ArticleMisteri Kematian Brandon Lee di Set Film ‘The Crow’ (1993): Tragedi Peluru Hampa yang Mengguncang Industri Hollywood
    Next Article Sihir Winamp dan Skin Kustomnya: Pemutar Musik Paling Ikonik Era 2000-an Lengkap dengan Slogan ‘It Really Whips the Llama’s Ass!’
    Radio90an
    • Website

    Related Posts

    Radio Pemutar dan Mixtape Kaset: Romantisme Berbagi Musik di Era Sebelum Playlist Digital

    October 18, 2026

    Demam Vinyl dan Casette Tape: Mengapa Generasi Z Menggilai Musik Analog 90-an?

    October 18, 2026

    Demam Bluetooth, Infrared, dan Tukar Lagu MP3 di Sekolah: Ritual Berbagi Media Sebelum Ada WhatsApp

    October 18, 2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.