Radio90.com — Di dalam arena subkultur Casual Football, ada satu elemen visual yang hampir tidak pernah absen dari kaki para suporter di tribune: logo tiga garis khas Adidas. Dari benteng-benteng stadion di Inggris, Eropa, hingga tribun-tribun lokal di Indonesia, sepatu kets (sneakers) Adidas vintage telah menjadi semacam “seragam wajib” sekaligus paspor tak tertulis bagi siapapun yang mengadopsi gaya hidup casual.
Namun, mengapa dari sekian banyak merek pakaian olahraga raksasa di dunia, Adidas yang memiliki ikatan emosional paling kuat dan sakral dalam sejarah football casuals?
1. Warisan “Invasi Eropa” dan Berburu Sepatu Langka
Akar kecintaan anak casual terhadap Adidas bermula pada akhir era 1970-an. Saat itu, klub-klub Inggris seperti Liverpool FC dan Everton sukses mendominasi panggung sepak bola Eropa. Ribuan suporter muda melakukan perjalanan bertandang (away day) menyeberangi Samudra Atlantik menuju kota-kota di Prancis, Jerman, dan Italia.
-
Eksklusivitas Era Pre-Internet: Di kota-kota Eropa tersebut, para suporter menemukan seri-seri sepatu Adidas yang tidak pernah dirilis atau dijual di pasar Inggris.
-
Berburu Harta Karun: Membawa pulang sepasang Adidas edisi terbatas (limited edition) yang tidak dimiliki orang lain di kota asal menjadi bentuk pencapaian dan gengsi tertinggi. Sepatu ini menjadi simbol bahwa seorang suporter benar-benar ikut mengawal timnya bertanding ke luar negeri.
2. Seri City Series dan Identitas Lokal yang Kuat
Salah satu langkah paling jenius dari Adidas dalam sejarah subkultur ini adalah perilisan Adidas City Series—lini sepatu kets yang dinamai berdasarkan kota-kota besar di dunia, seperti Adidas London, Manchester, Dublin, Berlin, Hamburg, Muenchen, hingga Stockholm.
-
Simbol Kebanggaan Kota: Model-model ini secara tidak langsung mengawinkan estetika sepatu kets dengan rasa bangga terhadap daerah atau kota asal.
-
Koleksi Wajib: Warna-warna siluet City Series yang khas serta bahan suede premium menjadikan sepatu ini incaran utama para pengumpul (collector) di lingkungan casual.
3. Desain Siluet Klasik, Low-Profile, dan Elegan
Berbeda dengan subkultur jalanan lain yang mungkin menyukai sepatu basket berpotongan tinggi (high-top) atau berdesain tebal (chunky), anak casual mempertahankan standar berpakaian yang rapi, sharp, dan elegan.
-
Siluet Low-Profile: Model-model legendaris seperti Adidas Gazelle, Samba, Spezial, Tobacco, dan Campus memiliki desain yang sangat ramping dan bernuansa vintage.
-
Mudah Dipadukan: Desain low-profile ini sangat cocok dan fleksibel ketika dipadukan dengan celana jins denim potong lurus, celana chino, hingga jaket parka atau windbreaker mahal seperti Stone Island dan C.P. Company.
4. Efek Gelombang Musik Britpop dan Madchester
Keterikatan anak casual dengan Adidas makin mengakar kuat pada dekade 1990-an ketika budaya stadion melebur erat dengan skena musik independen Inggris.
-
Ikon Musik Bersepatu Tiga Garis: Musisi legendaris era 90-an seperti Ian Brown (The Stone Roses), Noel dan Liam Gallagher (Oasis), serta Damon Albarn (Blur) adalah penggemar berat Adidas.
-
Pengaruh Layar Kaca: Ketika jutaan anak muda 90-an melihat idola musik mereka tampil di atas panggung atau di video klip MTV mengenakan Adidas Spezial atau Gazelle, popularitas merek ini melesat melampaui batas stadion sepak bola dan menjadi ikon fesyen pop global.
Tiga Garis yang Tak Pernah Usang
Bagi komunitas football casuals, mengenakan Adidas bukan sekadar mengikuti tren fesyen sementara, melainkan bentuk penghormatan terhadap sejarah, loyalitas, serta dedikasi subkultur yang telah bertahan selama bertahun-tahun.
Selama gelombang tepuk tangan dan nyanyian suporter masih menggema di tribune stadion, siluet klasik Adidas akan terus melangkah, membawa cerita panjang tentang kebanggaan dan gaya hidup yang tak lekang oleh waktu.

