Radio90.com — Di balik riuhnya tribune stadion sepak bola dan nyanyian fanatik para suporter, lahir sebuah gerakan budaya urban yang mengubah wajah sepak bola modern selamanya. Budaya tersebut adalah Casual Football (atau Football Casuals), sebuah subkultur suporter yang menanggalkan jersi tim dan syal warna-warni demi pakaian desainer kelas atas, sepatu kets langka, serta penampilan serba rapi.
Bermula dari lanskap Britania Raya pada era 1970-an dan mencapai puncak kejayaannya sepanjang dekade 1980-an hingga 1990-an, casuals bukan sekadar tentang sepak bola—ini adalah perpaduan antara loyalitas klub, persaingan gaya, dan identitas kelas pekerja.
Asal Usul: Trik Menghindari Kejaran Polisi
Pada era 1970-an, kelompok suporter garis keras di Inggris yang dikenal sebagai hooligans sangat mudah dikenali oleh pihak kepolisian karena atribut khas mereka: jersi klub, syal warna mencolok, serta sepatu bot Dr. Martens.
Untuk menghindari pengawasan ketat aparat serta taktik penyamaran saat bertandang ke markas lawan, para suporter muda dari klub-klub seperti Liverpool, Everton, Manchester United, dan Aberdeen mulai mengadopsi taktik baru dalam berpakaian. Mereka sengaja mengenakan pakaian olahraga impor dan pakaian kasual mewah agar terlihat seperti pemuda kelas menengah biasa.
-
Invasi Eropa: Ketika klub-klub Inggris mendominasi kompetisi Eropa di akhir 70-an, para suporter yang melakukan perjalanan away day ke Italia, Prancis, dan Jerman mulai “mencuri” atau membeli merek-merek pakaian eksklusif Eropa yang saat itu belum masuk ke pasar Inggris.
-
Dari Trik Menjadi Tren: Trik menyamar ini dengan cepat bertransformasi menjadi kompetisi antarkelompok suporter. Stadion bukan lagi sekadar tempat bertanding sepak bola, melainkan panggung catwalk underground untuk memamerkan pakaian siapa yang paling mahal, langka, dan paling sulit didapatkan.
Elemen Utama Gaya Pakaian Casuals
Subkultur casual memiliki standar fesyen yang sangat spesifik dan terus berkembang. Beberapa merek ikonik yang mendefinisikan estetika football casuals meliputi:
-
Sepatu Kets/Snakers Vintage: Sepatu Adidas dari seri City Series (seperti Adidas Hamburg, Muenchen, Stockholm, dan Dublin) serta Puma dan Diadora menjadi barang wajib yang menentukan tingkat “gengsi” seorang casual.
-
Jaket dan Outerwear Ikonik: Jaket parka atau windbreaker dari Stone Island—dengan emblem kancing khas di lengan kiri—serta C.P. Company yang terkenal dengan kupluk ber-goggle (Goggle Jacket) menjadi simbol utama subkultur ini.
-
Polo Shirt dan Rajut Elegan: Kaos polo dan sweater dari Fred Perry, Sergio Tacchini, Fila, Lacoste, Lyle & Scott, serta Burberry checkered pattern melengkapi penampilan yang rapi namun tetap berkesan jalanan.
Evolusi Era 90-an dan Gelombang Britpop
Memasuki dekade 1990-an, gaya berpakaian casual mengalami peleburan besar-besaran dengan kultur musik pop Inggris, khususnya gelombang Britpop dan skena Madchester.
-
Sinergi Musik dan Stadion: Band-band besar 90-an seperti Oasis, Blur, The Stone Roses, dan The Verve mengadopsi gaya berpakaian casuals. Kemunculan Liam Gallagher dengan jaket parka Stone Island atau Damon Albarn dengan kaos polo Fred Perry makin memperluas estetika ini ke luar stadion.
-
Dampak Global: Gaya casual tidak lagi terbatas pada tribune stadion di Inggris. Subkultur ini menyebar pesat ke seluruh Eropa, Amerika Latin, hingga akhirnya menginspirasi skena suporter sepak bola di Asia dan Indonesia.
Warisan Gaya Hidup yang Tak Pernah Padam
Meskipun teknologi pengawasan stadion modern dan regulasi keamanan telah mengikis aksi keras kelompok hooligans, warisan fesyen dari subkultur Casual Football tetap bertahan kokoh.
Bagi banyak suporter modern, menjadi seorang casual adalah tentang mempertahankan estetika tajam, menghargai sejarah pakaian olahraga vintage, serta menunjukkan dedikasi mendalam pada klub tanpa harus mengucapkan sepatah kata pun—cukup lewat sepatu dan jaket yang mereka kenakan di tribune.

