Radio90an.com – Membicarakan panggung politik Indonesia di dekade 90-an tidak mungkin melewatkan nama Megawati Soekarnoputri. Di tengah cengkeraman kekuasaan Orde Baru yang diktator dan tertutup, putri sulung Presiden Republik Indonesia pertama, Soekarno, ini menjelma menjadi magnet politik baru yang menyedot perhatian jutaan rakyat kecil dan menjadi ikon perlawanan terhadap status quo.
Badai Konflik Internal dan Kongres Luar Biasa Surabaya 1993
Keterlibatan politik praktis Megawati mulai mencuat ketika ia terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia (PDI) dalam Kongres Luar Biasa (KLB) di Surabaya pada tahun 1993.
“Terpilihnya Megawati sempat membuat pemerintah Orde Baru merasa terancam, sebab kharisma dan nama besar Soekarno yang melekat padanya dinilai mampu membangkitkan kembali ingatan kolektif rakyat akan kekuatan marhaenisme.”
Pemerintah berupaya keras menjegal kepemimpinannya melalui berbagai intervensi politik, yang puncaknya terjadi pada Kongres tandingan di Medan tahun 1996 yang melengserkannya secara paksa dari kursi ketua umum.
Tragedi 27 Juli 1996 (Kudatuli) dan Lahirnya Perlawanan Massal
Pecatnya Megawati secara sepihak memicu kemarahan luas para pendukung setianya. Kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, yang menjadi benteng pertahanan kubu Megawati diserbu dan diambil alih secara paksa pada Sabtu, 27 Juli 1996—sebuah peristiwa berdarah yang dikenal sebagai Kudatuli (Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli).
-
Simbol Perlawanan Rakyat: Tragedi tersebut justru semakin melambungkan nama Megawati. Ia tidak surut ke belakang, melainkan memilih jalur perlawanan konstitusional dengan mendirikan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P).
-
Batu Loncatan Reformasi: Gelombang simpati dan dukungan masif kepada Megawati di sepanjang sisa dekade 90-an menjadi salah satu motor penggerak utama runtuhnya rezim Orde Baru pada Mei 1998.
Peran Megawati di era 90-an mencatatkan sejarah penting sebagai perempuan pertama yang menjadi mercusuar perlawanan politik arus bawah, mengubah jalannya sejarah bangsa menuju era reformasi dan demokrasi terbuka.

