• Whatsapp
  • Facebook
  • Twitter
  • Telegram
  • Copy
Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube WhatsApp TikTok
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube WhatsApp TikTok Threads
    Subscribe
    • Home
    • News
    • Musik
    • Viral
    • Event
    • Nostalgia 90an
    • Video
    Home » Megawati Soekarnoputri di Dekade 90-an: Simbol Perlawanan Politik dan Kebangkitan Oposisi Orde Baru
    News

    Megawati Soekarnoputri di Dekade 90-an: Simbol Perlawanan Politik dan Kebangkitan Oposisi Orde Baru

    Radio90anBy Radio90anOctober 9, 2026Updated:October 9, 2026No Comments2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email
    Radio90an.com – Membicarakan panggung politik Indonesia di dekade 90-an tidak mungkin melewatkan nama Megawati Soekarnoputri. Di tengah cengkeraman kekuasaan Orde Baru yang diktator dan tertutup, putri sulung Presiden Republik Indonesia pertama, Soekarno, ini menjelma menjadi magnet politik baru yang menyedot perhatian jutaan rakyat kecil dan menjadi ikon perlawanan terhadap status quo.

    Badai Konflik Internal dan Kongres Luar Biasa Surabaya 1993

    Keterlibatan politik praktis Megawati mulai mencuat ketika ia terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia (PDI) dalam Kongres Luar Biasa (KLB) di Surabaya pada tahun 1993.
    “Terpilihnya Megawati sempat membuat pemerintah Orde Baru merasa terancam, sebab kharisma dan nama besar Soekarno yang melekat padanya dinilai mampu membangkitkan kembali ingatan kolektif rakyat akan kekuatan marhaenisme.”
    Pemerintah berupaya keras menjegal kepemimpinannya melalui berbagai intervensi politik, yang puncaknya terjadi pada Kongres tandingan di Medan tahun 1996 yang melengserkannya secara paksa dari kursi ketua umum.

    Tragedi 27 Juli 1996 (Kudatuli) dan Lahirnya Perlawanan Massal

    Pecatnya Megawati secara sepihak memicu kemarahan luas para pendukung setianya. Kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, yang menjadi benteng pertahanan kubu Megawati diserbu dan diambil alih secara paksa pada Sabtu, 27 Juli 1996—sebuah peristiwa berdarah yang dikenal sebagai Kudatuli (Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli).
    • Simbol Perlawanan Rakyat: Tragedi tersebut justru semakin melambungkan nama Megawati. Ia tidak surut ke belakang, melainkan memilih jalur perlawanan konstitusional dengan mendirikan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P).
    • Batu Loncatan Reformasi: Gelombang simpati dan dukungan masif kepada Megawati di sepanjang sisa dekade 90-an menjadi salah satu motor penggerak utama runtuhnya rezim Orde Baru pada Mei 1998.
    Peran Megawati di era 90-an mencatatkan sejarah penting sebagai perempuan pertama yang menjadi mercusuar perlawanan politik arus bawah, mengubah jalannya sejarah bangsa menuju era reformasi dan demokrasi terbuka.
    Share this...
    • Whatsapp
    • Facebook
    • Telegram
    • Twitter
    • Linkedin
    • Pinterest
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Previous ArticleTelevisi Tabung dan Program Variety Show 90-an: Dari ‘Spontan’ Sampai ‘Doraemon’ Penguasa Akhir Pekan
    Next Article The Cranberries di Dekade 90-an: Vokal Melengking Dolores O’Riordan dan Ratapan Alternatif Rock Irlandia
    Radio90an
    • Website

    Related Posts

    Menutup Penantian Delapan Tahun: Perjalanan Emosional di Balik Album Penuh “Blue.” oleh Gloria Jessica dan Ade Govinda

    October 2, 2026

    Berita Duka: Seniman dan Budayawan Legendaris Guruh Soekarnoputra Tutup Usia

    September 26, 2026

    Babak Baru Sang Komandan: Mengenang Nuansa Klasik 90-an di Balik Pernikahan Andre Taulany dan Amanda Rigby

    September 24, 2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.