Radio90an.com – Bagi anak-anak yang menghabiskan masa kecil di era 90-an, sore hari di lapangan kampung atau halaman sekolah tidak lengkap tanpa kehadiran permainan kelompok yang mengandalkan kecepatan lari dan strategi taktis. Salah satu permainan tradisional paling legendaris yang selalu berhasil memicu adrenalin adalah bentengan (atau sering juga disebut rebutan benteng).
Menentukan Markas dan Pembagian Kelompok
Permainan bentengan dimainkan oleh dua kelompok tanding yang masing-masing biasanya terdiri dari 4 hingga 8 orang. Setiap kelompok harus memilih sebuah objek tetap di lapangan terbuka—seperti tiang bendera, batang pohon besar, atau pilar tembok—yang bertindak sebagai benteng utama mereka.
“Kemenangan dalam permainan bentengan bukan hanya ditentukan oleh siapa yang berlari paling cepat, melainkan bagaimana sebuah tim mengatur strategi pertahanan dan penyelamatan kawan yang tertawan.”
Aturan dasar permainannya cukup sederhana namun menantang:
-
Menjaga Benteng: Setiap pemain harus siaga menjaga bentengnya agar tidak disentuh oleh anggota tim lawan.
-
Aturan Pengejaran (Pocut/Tertangkap): Pemain yang keluar lebih dulu dari benteng berhak mengejar dan “menandai” pemain lawan. Siapa pun yang keluar lebih awal dari benteng memiliki hak mengejar yang lebih kuat (pocin) dibandingkan lawan yang keluar belakangan.
-
Tawan-menawan: Jika seorang pemain disentuh oleh lawan yang keluar lebih dulu, maka ia dinyatakan sebagai “tawanan” dan harus berdiri di dekat benteng musuh.
-
Penyelamatan: Anggota tim yang masih bebas dapat membebaskan teman mereka yang tertawan dengan cara menyentuh tubuh sang tawanan, yang biasanya diselingi dengan kejar-kejaran seru di garis pertempuran.
Gelak Tawa dan Solidaritas di Lapangan
Suasana permainan bentengan selalu dipenuhi sorak-sorai, teriakan peringatan antar-anggota tim, dan deru napas terengah-engah. Permainan ini melatih kerja sama kelompok, kecepatan, ketangkasan, serta kejujuran dalam mengakui saat diri kita “tertangkap” oleh lawan.
Kini, seiring dengan perubahan zaman dan semakin jarangnya anak-anak berkumpul di ruang terbuka sore hari, permainan bentengan perlahan menjadi kenangan masa lalu. Namun, semangat kebersamaan dan strategi di lapangan rumput tersebut akan selalu hidup sebagai bagian indah dari memori kolektif era 90-an.

